PERAN PSIKOLOGI KOMUNKASI DALAM MEMBANGUN POLA PERILAKU ANAK
Oleh: Asnafri Taranau
Latar Belakang
Zaman sekarang, kita sementara dihidupi dan menghidupi suatu era yang disebut globalisasi. Era ini ditandai oleh media komunikasi dan informasi yang mempunyai peranan sangat besar bagi kehidupan manusia. Hal ini dicirikan oleh proses pertukaran informasi yang begitu cepat sehingga batas-batas geografis tidak menjadi penghalang untuk mengetahui informasi yang sedang terjadi di suatu wilayah tertentu. Hal ini membawa kesan bahwa media telah menciptakan “kampung global” bagi umat manusia (global village for human beings). Dalam ilmu komunikasi, fenomena ini dinamakan komunikasi massa (mass communication). Rakhmat (1985) mengatakan bahwa komunikasi massa ialah suatu bentuk komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen, dan anonim melalui media cetak atau elektronik, sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa komunikasi massa adalah komunikasi yang dilakukan oleh media massa kepada khalayak dengan tujuan untuk menyampaikan informasi. Dari defenisi di atas, ditemukan bahwa secara inheren media massa dapat dikategorikan menjadi dua, yakni media cetak dan elektronik.
Nah jika media komunikasi yang terjadi dewasa ini sebegitu berpengaruh dalam kehidupan masyarakat sekarang, pertanyaan yang lebih menjurus ke arah tulisan ini ialah …..apa dampak psikologi komunikasi terhadap perilaku anak? Perlu dijelaskan bahwa perilaku manusia pada hakikatnya merupakan proses interaksi individu dengan lingkungannya.. Sikap dan perilaku menurut pandangan behavioristik dapat dibentuk melalui proses pembiasaan dan pengukuhan lingkungan.
Sadar atau tidak melalui proses pembiasan dan pengukuhan yang dilakukan media secara sugestif melalui iklan ataupun tayangan-tayangan lain yang selalu muncul di layar televisi, di kolom-kolom surat kabar dan media internet, telah membentuk perilaku (behavior) manusia menjadi insan yang serba instant, pragmatis, hedonis, kejam, berbagi rasa (share compassion), simpati, empati dan masih masih banyak perilaku lain yang mampu dibentuk oleh media. Menurut Kuswandi (dikutip dalam Syarifah, 2010), media massa yang paling mempengaruhi khalayaknya dalam hal penyampaian informasi adalah televisi. Kehadiran televisi dalam kehidupan manusia telah memunculkan suatu peradaban, khususnya dalam proses komunikasi dan penyebaran informasi yang bersifat massal dan menghasilkan efek sosial yang berpengaruh terhadap nilai-nilai sosial dan budaya manusia. Hal ini dikarenakan informasi yang diperoleh melibatkan dua indra yakni indra pendengar (telinga) dan indra penglihatan (mata) secara simultan dan bersamaan.
Dwyer (dikutip dalam Majid, 2008) menjelaskan bahwa sebagai media audio visual (yaitu televisi) mampu merebut 94 % saluran masuknya informasi ke dalam jiwa manusia, yaitu lewat mata dan telinga. Televisi mampu membuat orang pada umumnya mengingat 50% dari apa yang mereka lihat dan dengan di layar televisi, walaupun hanya sekali ditayangkan. Secara umum, orang akan ingat 85% dari apa yang mereka lihat di televisi setelah 3 jam kemudian dan 65% setelah 3 hari kemudian. Namun televisi bukanlah satu-satunya media yang menjadi kajian dalam tulisan ini.
Dalam kaitannya dengan pembentukan perilaku manusia oleh media, ada hal menarik yang perlu dianalisis secara kritis. Berdasarkan penalaran secara rasional dan sistematis, penulis menemukan bahwa ada pengaruh media secara psikologis. Peranan media secara psikologis berkaitan dengan dengan faktor biologis dan faktor sosiopsikologis. Pengaruh faktor biologis adalah perilaku tertentu yang merupakan bawaan manusia, bukan pengaruh lingkungan; motif biologis yaitu kebutuhan makan, minum, istirahat, dllnya. Faktor sosiopsikologis yang mempengaruhi perilaku berupa: Komponen afektif yaitu aspek emosional, kognitif, intelektual, yang berkaitan dengan apa yang diketahui manusia; aspek konatif adalah hal-hal yang berhubungan dengan kebiasaan dan kemauan bertindak. Komponen afektif meliputi: Motif sosiogenis (motif ingin tahu), motif kompetensi, motif cinta, motif harga diri kebutuhan akan nilai, kedambaan dan makna kehidupan kebutuhan akan pemenuhan diri.
Menurut Sherif sikap adalah sejenis motif sosiogenis yang diperoleh melalui proses belajar. Menurut Alport sikap adalah kesiapan syaraf setelah memberi respon: (a) Sikap adalah kecenderungan bertindak berpersepsi, berpikir dan merasa dalam menghadapi obyek, ide, situasi atau nilai; (b) Sikap mempunyai daya pendorong atau motivasi: (c) Sikap relatif menetap dan jarang mengalami perubahan; (d) Aspek evaluatif mengandung nilai menyenangkan atau tidak menyenangkan dan (e) Sikap timbul dari pengalaman, tidak dibawa sejak lahir tetapi merupakan hasil belajar.
Berkaitan dengan perilaku yang dibentuk oleh media, penulis lebih tertarik pada dampak psikologi komunikasi terhadap perilaku anak-anak. Penulis sengaja memilih anak-anak dalam tulisan ini karena masa kanak-kanak merupakan masa pembentukan pola sosialisasi dan perilaku anak-anak. Seto Mulyadi (dikutip oleh Windhi 2006) mengatakan bahwa anak-anak adalah peniru terbaik di dunia. Menurut Cooney (dikutip dalam Chen,1996) anak-anak dan media khususnya televisi merupakan suatu perpaduan yang sangat kuat yang diketahui oleh orang tua, pendidik dan pemasang iklan. Menurut Charen (dikutip oleh Chen,1996) televisi merupakan suatu alat yang melebihi budaya dalam mempengaruhi cara berpikir dan perilaku anak.
Media dan Psikologi Komunikasi
Media dan Psikologi Komunikasi secara inheren bukanlah hal yang terpisah. Keduanya merupakan komponen yang secara konsep berbeda tetapi memiliki saling keterkaitan (simboisis). Dengan kata lain, bagaimana klahayak dapat mengakses informasi jika tidak ada media. Begitu juga sebaliknya! Namun keterkaitan ini tidak selalu saling menguntungkan. Yang sering terjadi ialah ialah media hanya mengejar profit sehingga tidaklah menjadi masalah jika harus mengorbankan khalayak.
Untuk itu penulis akan coba menggambarkan masing-masing komponen itu secara detil.
a. Psikologi Komunikasi
Perilaku komunikasi berhubungan dengan karakteristik manusia komunikan/pelopor (communicant people) yang dipengaruhi oleh faktor-faktor internal maupun eksternal. Psikologi Komunikasi berhubungan dengan faktor biologis dan sosiopsikologis. Pengaruh faktor biologis adalah perilaku tertentu merupakan bawaannya manusia bukan pengaruh lingkungan dan motif biologis yaitu kebutuhan makan, minum istirahat dllnya
Faktor sosiopsikologis yang mempengaruhi perilaku manusia, terdiri dari:. komponen afektif yaitu hal-hal yang berkaitan dengan aspek emosional; komponen kognitif / intelektual; aspek konatif; aspek volisional/ kebiasaan dan kemauan bertindak. komponen afektif meliputi: motif sosiogenis/motif ingin tahu, motif kompetensi, motif cinta, motif harga diri, kebutuhan akan nilai, kedambaan dan makna kehidupan, serta kebutuhan akan pemenuhan diri.
Selain faktor-faktor biologis dan faktor psikososial seperti yang sudah dijabarkan di atas, ada 4 faktor lain yang tidak bisa diabaikan , yang juga memiliki hubungan dengan psikologi komunikasi, yaitu:
ü Penerimaan stimuli secara inderawi (sensory reception of stimult)
Penerimaan stimuli secara indrawi yaitu data-data yang masuk melalui organ-organ penginderaan. Stimuli yang diterima bisa berupa orang, pesan, suara, warna dan segala hal yang mempengaruhi kita;
ü Proses yang mengantarai stimuli dan respons (internal mediation of stimult)
Stimuli yang datang, diolah dalam jiwa kita dalam "kotak hitam "yang tidak pemah kita ketahui;
ü Prediksi respons (prediction respons) yaitu respon yang terjadi pada masa lalu dapat meramalkan respon yang akan terlihat;
ü Peneguhan response adalah pengaruh lingkungan atau orang terhadap respon organisme atau disebut Feed Back (umpan balik)
b. Media dan cara Kerjanya
Mass media merupakan bentuk dari media yang disukai, yang dilihat sebagai gabungan dari mass communication, budaya dan tekhnologi. Menurut McQuail dan Windahl (dikutip dalam gilas,2003), secara umum terdapat banyak model, alat komunikasi yang selalu mengalami perkembangan setiap tahunnya. Ada perbedaan tekhnologi mass media antara telephone dan televisi, dimana telefon adalah alat tekhnologi yang menggunakan tekhnik komunikasi dua arah dan televisi merupakan alat tekhnologi dan tekhnik komunikasi searah. Tidak hanya itu, ada juga media interaktif yang dimunculkan dengan menggunakan jaringan, yaitu internet (Giles,2003).
Menurut Wells, Moriarty dan Burnett (2006) ada enam langkah agar masyarakat dapat merespon yang ditampilkan oleh media massa, yaitu: perception, cognition, emotional response, association, persuasion, behavior.
Media dengan Segala Aspeknya
a. Peranan Media
Wahyudi (dikutip oleh Yusatie,1998) menyebutkan fungsi media massa, yaitu: (1) menyajikan informasi (2) media pendidikan (3) media hiburan (4) media kontrol sosial
b. Pengaruh Positif Media
Media memiliki pengaruh positif yakni: (a) pencerdasan anak bangsa (b) menimbulkan kepuasan akan kesenangan dari hiburan (c) menjadi sahabat disaat kesepian (d) terciptanya suasana keakraban dalam keluarga (e) seseorang dapat mencontoh sifat-sifat baik dari tokoh yang ada dalam film dan (f) meningkatkan profesionalisme (Yusiatie,1998)
c. Pengaruh Negatif Media
Selain memiliki factor positif, media juga memiliki factor negative. Menurut Yusatie (1998) ada empat pengaruh negative,yakni: (a) mengikis nilai-nilai budaya karena produk impor (b) pola hidup konsumtif (c)seseorang menjadi agresif (d) media menjadi “dewa” bagi manusia.
Peran Psikologi Komunikasi dalam Proses Media Membangun Perilaku Anak
Setelah membahas satu persatu setiap variabel yang ada, kini penulis sampai pada bagian inti. Pada bagian ini penulis akan membahas pola perilaku anak yang terbangun sebagai pengaruh dari media.
Penulis akan memulai bagian ini, dengan sebuah tesis dasar yaitu anak-anak cenderung meniru apa yang mereka lihat. Dengan tesis ini, penulis berasumsi bahwa dengan kecendrungan itu tidak tertutup kemungkinan perilaku dan sikap dari sang anak mengikuti model tokoh yang mereka lihat atau baca. Hal ini sudah dibuktikan melalui penelitian eksperimen Wilson (2008) dimana anak-anak diperlihatkan tontonan Mighty Morphin Power Ranger`s yang mengandung sejumlah adegan kekerasan. Berdasarkan eksperimen tersebut, didapat hasil penelitian bahwa anak-anak, khususnya laki-laki cenderung meniru perilaku kekerasan yang ditayangkan tontonan acara tersebut, yaitu perilaku memukul, menendang dan mendorong.
Tetapi media juga memiliki dampak positif terhadap perilaku anak. Salah satu tayangan yang memberikan dampak positif bagi anak-anak, yaitu peristiwa yang terjadi di Indonesia, dimana terjadi “Gerakan Koin Peduli Prita” yang dideklarasikan pada hari Sabtu, 5 Desember 2009 melalui tayangan televise (Sabran,2009). Kaylan Dian (seorang siswa TK) misalnya, mengatakan “sangat sedih ketika mendengar nasib dan penderitaan yang dijalani Prita, baik dari televisi maupun dari penjelasan yang diberikan oleh guru”. Pada aksi tersebut para siswa TK mengumpulkan uang koin yang dimasukan ke dalam celengan ayam jago yang kemudian disatukan dengan kotak yang terbuat dari kardus yang bertuliskan Koin Pedui Prita (Oklex Smart Blog,2009)
Sejak usia 3-6 tahun, kata hati seorang anak sudah mulai terpupuk. Anak sudah dapat diajarkan berperilaku moral (Gunarsa & Gunarsa,2004). Barry, Walker, Medsen & Nelson (2007) istilah pembelajaran moral sebagai perspective taking. Fenomena seperti yang telah dijelaskan di atas (Gerakan Peduli Koin untuk Prita), merupakan salah satu produk media massa yang dapat menjelaskan proses pembelajaran perilaku prososial (Taylor, Peplau dan Sears ,2006) pada anak-anak. Proses munculnya perilaku prososial dapat dijelaskan melaui enam cara media berdampak kepada masyarakat, yaitu: perception, cognition, emotional response, association, persuasion, behavior (Wells, Moriarty dan Burnett, 2006).
Pada peritiwa Koin Peduli Prita, informasi mengenai kasus tersebut membentuk persepsi dalam diri anak-anak. Setelah anak-anak mempersepsikan informasi, lagkah selanjutnya adalah cognition. Anak-anak seperti halnya individu lain memiliki kebutuhan untuk mengetahui dan memahami sesuatu. Masuknya informasi dalam kognisi anak-anak menciptakan perasaan emosional tertentu. Ungkapan seperti yang diutarakan oleh Kaylan dalam contoh sebelumnya menunjukkan Emotional response. Selanjutnya, emosi kesedihan memunculkan ekspresi want untuk melakukan suatu tindakan menolong.
Tahap selanjutanya adalah proses asosiasi (association). Pada tahap asosiasi terdapat simbolisme akan ketidakadilan pada kasus Prita. Simbol yang terungkap dalam kasus itu ialah koin. Informasi yang telah masuk dalam kognisi anak, diketahui,dipahami dan dipelajari kemudian akan mempersuasikan atau mengajak anak untuk meyakini sesuatu dan melakukan suatu tindakan.
Dengan menyaksikan tayangan yang ada di Televisi, anak-anak secara tidak langsung mengalami proses belajar. Proses belajar yang terjadi menurut Albert Bandura (dikutip dari Waruwu,2004), terjadi melalui peniruan (imitation) terhadap perilaku orang lain yang dilihat oleh seorang anak pada pemberitaan Televisi. Pada akhirnya tindakan yang dilakukan oleh Kaylan merupakan tindakan prososial, karena tindakan tersebut dirancang untuk menolong orang lain tanpa menghiraukan motif pemberian pertolongan.
Kesimpulan
Media memiliki pengaruh yang sangat besar dalam membangun perilaku anak dalam proses sosialisasinya. Perilaku yang terbentuk pada diri anak bisa positif dan negatif tergantung input informasi yang diperoleh. Satu hal yang paling perlu digarisbawahi ialah bahwa anak adalah peniru terbaik di dunia. Mereka tidak hanya meniru tetapi hal itu juga bisa menjadikan hal itu sebagai perilaku. Oleh sebab itu, peran orang tua sangat diharapkan untuk memberikan perhatian dan pengawasan yang lebih selektif terhadap informasi yang diakses oleh anak-anak.
Barry C.M., Walker, L.M.P., Medsen, S.D., & Nelsen, L.J. 2007, The Impact of Maternal Relationship quality on Emerging Adults` Prosocial Tendencies: Indirect Effect Via Regulation on Prosocial Values. Springer Science and Business Media, 40, 519-581
Chen,M. 1996. Anak-Anak dan Televisi (Hidayat,Penerjemah). Jakarta: Gramedia Pustaka
Giles,D. 2003. Media Psychology. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates,Inc.
Gunarsa,S.D. & Gunarsa, Y.S.D. 2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta: Gunung Mulia.
Leman,M.2000. Televisi dan Anak-Anak. Retrieve 2010
Majid,A. 2008. Pengaruh Televisi Terhadap Anak. Retrieve 2010
Rakhmat J. 1985. Psikologi Komunikasi (edisi revisi). Bandung: Remaja Rosdakarya
Sabran,A. 2009. Ketika Keadilan Dilecehkan. Retrieve 2010
Taylor, S.E. Peplau, L.A.,& Sears, D.O.2006. Social Psychology. Upper Saddle River, NJ: Pearson education
Waruwu, F. Tayangan Kekerasan di Tv dan Dampaknya pada Anak. Dalam S.D. Gunarsa (Ed.), Dari Anak samapi Usia Lanjut: Bunga Rampai Psikologi Perkembangan. Jakarta: Gunung Mulia.
Widhi N. 2006. Kak Seto: Anak Peniru yang Baik. Retrieved 2010
Chaplin, J.P. terjemahan Kartini Mohammad,1997. Kamus Lengkap psikologi.PT, Raja ..
Grafindo Persada: Jakarta.
Denis Coont.l977, Introduction to Psychology: Exploration and Application, West Publishing
Company, Bo




7:53 PM
Donatta Taranau
, Posted in
0 Response to "PERAN PSIKOLOGI KOMUNKASI DALAM MEMBANGUN POLA PERILAKU ANAK"
Post a Comment