Belajar dari Filsafat Stoa
Pendahuluan
Menyibukkan diri di bidang filsafat bukanlah suatu kegiatan yang hanya dilakukan oleh segelintir ahli saja, melainkan merupakan salah satu ciri kemanusiaan kita. Dalam hal ihwal sehari-hari termasuk juga kadang-kadang pandangan yang lain daripada yang lain terhadap peristiwa-peristiwa sehari-hari itu. Berfilsafat merupakan salah satu kemungkinan yang terbuka bagi setiap orang, seketika ia mampu menerobos lingkaran kebiasaan yang tidak mempersoalkan hal ihwal sehari-hari. Filsafat bertitik pangkal pada pertanyaan. Dan anehnya, pertanyaan tadi menunjukkan kedua arah: kepada arus peristiwa sehari-hari yang kini tidak lagi dianggap serba biasa dan kepada si penanya sendiri.
Dalam arus kehidupan sehari-hari manusia dilingkari oleh aneka macam peristiwa yang langsung dialaminya, seperti bangun tidur, mengenakan pakaian, bekerja dan beristrahat, atau yang tidak langsung sampai kepadanya, namun juga dianggap biasa saja, seperti berita dalam surat kabar atau televise mengenai perkembangan mutakhir dalam politik internasional, bencana alam di salah satu Negara yang jauh atau peristiwa-peristiwa yang menakjubkan. Itulah peristiwa-peristiwa yang yang dialami manusia secara pasif bersama-sama dengan banyak orang lain.
Dengan demikian kita telah melihat bahwa pengetahuan filsafat timbul dari pengalaman sehari-hari dan dari pergaulan kita dengan orang-orang lain dan barang-barang. Berfilsafat pada pokoknya terjadi di tengah-tengah kejadian yang biasa dan menurut hakekatnya selalu bertautan dengan permenungan sehari-hari. Itulah sebabnya mengapa sebetulnya filsafat itu tidak ada awalnya. Permenungan filsafat telah kita jumpai pada orang-orang Cina dan India yang hidup beribu-ribu tahun yang lalu, sedangkan dalm lingkungan kebudayaan Yunani permenungan seperti itu baru muncul sekitar abad keenam SM sebagai sebuah kegiatan tersendiri yang dilakukan demi kegembiraan yang dihasilkan oleh pengertian. Van Peursen (1988; 3) mengatakan bahwa pada hakekatnya setiap pengalaman manusiawi mengandung kemungkinan terbukanya dimensi filsafat. Sebaliknya setiap permasalahan filsafat, betapapun abstrak atau umum, entah yang menyangkut manusia, entag yang bertalian dengan Ada pada umumnya, selalu berakar di dalam manusia yang bertanya-tanya, yang bediri di tengah-tengah arus pengalaman sehari-hari dan sejarah manusia.
Filsafat tidak mengenal apa yang disebut “titik nol yang mutlak” seperti dalam ilmu alam, ia tidak dimulai secara polos dengan membuka selembar halaman yang masih kosong. Filsafat selalu berurusan dengan manusia yang selalu berangkat pada perjalanannya. Di dalam filsafat, muncul pertanyaan-pertanyaan yang hakiki seperti: ada itu apa? Siapakah aku? Tetapi dengan dengan mengajukan pertanyaan serupa, manusia tidak pernah berdiri pada awal perjalanannya; ia mempunyai latar belakang sejarah, ia hidup di tengah-tengah sebuah gambaran tertentu, dan dengan demikian manusia yang mengajukan pertanyaan tadi berasal dari situasinya sendiri. Lalu apa itu filsafat?
Filsafat berasal dari bahasa Greik (Yunani) yaitu Pilos (cinta) dan sophos (kebijaksanaan). Sehingga secara terminologi filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Ciceros yang dikutip dari Ahmad Hanafi (1990; 3) mengatakan bahwa orang pertama yang menggunakan kata filsafat adalah Phytagoras (476 SM), sebagai reaksi terhadap para cendekiawan pada masanya yang menamakan diri “Ahli Pengetahuan”, Phytagoras mengatakan bahwa pengetahuan dalam arti yang lengkap tidak sesuai untuk manusia. Tiap-tiap manusia yang mengalami kesukaran-kesukaran dalam memperolehnya dan meskipun menghabiskan seluruh umurnya namun ia tidak akan mencapai tepinya. Jadi pengetahuan adalah perkara yang kita cari dan kita ambil sebagian darinya tanpa mencakup keseluruhannya. Oleh karena itu, maka kita bukanlah ahli pengetahuan melainkan pencari dan pencinta pengetahuan.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa orang yang berfilsafat dapat dipahami sebagai orang yang berpijak di bumi dan menengadah ke langit. Ia ingin mengetahui hakikat dirinya dalam kemestaan alam. Dalam paper ini, penulis akan mendeskripsikan pemahaman para filsuf yang berasal dari mazhab Stoa. Stoisisme, demikian nama yang digelari untuk ajaran yang dikembangkan oleh mazhab Stoa, memiliki inti ajaran yang mengajak untuk hidup sesuai atau selaras dengan alam. Ajaran ini mendorong pengendalian diri terhadap keinginan duniawi dan pengendalian diri terhadap amarah (destructive emotion) .
Analisis
Stoa didirikan di Atena oleh Zeno dari Citium tahun 300 SM. Nama Stoa menunjukkan serambi bertiang tempat Zeno memberi pelajaran. Menurut stoisme, jagat raya ditentukan oleh suatu kuasa yang disebut logos (rasio), berdasarkan rasio manusia bisa mengenal orde universal dalam jagat raya. Ia akan hidup bijaksana dan bahagia asal saja ia bertindak menurut rasionya. Penaklukan diri kepad hokum-hukum alam bertolak dari penguasaan nafsu dan penguasaan diri secara sempurna (K. Bertens 2006:45).
Sebagai seorang pedagang, Zeno tentunya berkelana kesana-kemari untuk menjajakan dagangannya. Dalam situasi itulah ia bertemu denan banyak pemikiran para filsuf seperti.. Socrates, Xenocrates, Stilpon, dll. Pemikiran-pemikiran mereka benar-benar merangsang otaknya untuk menghasilkan sebuah pemikiran filsafat yang kemudian dikenal dengan stoisisme. Beberapa pernyataan Zeno yang paling terkenal antara lain:
The cosmos is a divine being with a soul.
Human beings are to live according to nature.
Man must control his emotions to remain indifferent to suffering.
Slavery violates natural law. It exists only where civil law and international custom fail to conform to natural law.
By natural law human beings are rational and thus have a power of self-government. Hence no human being should be governed by an external master.
Man-made Civil law and customary law ought to be reformed to be put in conformity with natural law. That is our moral duty.
The sun is a sphere of fire and the moon shines from reflected light.
Steel your sensibilities, so that life shall hurt you as little as possible.
Philosophy is like an orchard, with Physics as the soil and the trees, Logic as the fence guarding the orchard, and Ethics as the fruit of the trees.
Dengan pemikiran-pemikirannya yang brilian ini, stoisme telah menjadi filsafat pertama dalam sejarah pengutukan moral perbudakan. Dan banyak pemikirannya banyak diadopsi oleh orang-orang terkenal Roma seperti Cicero, Seneca, Josephus, Marc Aurel, dll.
Rasionalitas (logos) merupakan istilah yang dipakai oleh Philo dari Alexandria. Untuk menggambarkan pemahamannya mengenai firman. Menurutnya, logos ialah cetak biru yang dibuat oleh Tuhan untuk menciptakan alam semesta. Walaupun doktrin Logosnya agak kabur karena tercampur dengan pandangan agama Yahudi dan mistik, ia mengungkapkan dengan jelas bahwa Logos adalah perwujudan dari sifat Tuhan yang Maha Pencipta dan Maha Bijaksana. Istilah Logos ini dipakai oleh kaum Stoa untuk menjadi dasar keyakinan. Logos diterjemahkan artinya menjadi rasional oleh Stoisisme, memiliki tujuan agar manusia hidup sesuai dengan alam dan cara pandang biologis. Menurut Stoa, seluruh makhluk yang berjiwa pasti berjuang mencari keabadian. Pencarian keabadian ini mengarahkan dirinya untuk senada dengan irama alam yang cocok dengan dirinya. Manusia mengikuti akal sehat tidak hanya sekedar mencari makan, kehangatan, atau tempat berteduh, tetapi juga pemenuhan kebutuhan intelektualitasnya. Akhirnya, akal sehat mengarahkan manusia untuk memilih apa yang sesuai dengan keselarasan alami dengan tingkat akurasi yang lebih baik dibandingkan hanya dengan mengikuti insting kebinatangan.
Bagi para filsuf stoa, dalil-dalil mengenai akal mempunyai kekuatan universal. Dalil-dalil tersebut juga mengikat semua manusia di mana saja. Dari sini para filsuf Stoa untuk pertama kalinya mengembangkan filsafat kosmopolitan yang termasyhur dalam pemikiran barat. Manusia diberkahi dengan akal, terlepas dari ras dan kebangsaan. Perbedaan antara negara kota Yunani dan negara orang Barbar, serta dalil negara dunia di mana umat manusia hidup sederajat tidak dapat diterima.
Inti ajaran stoa dalam memandang dunia ialah bagaimana memahami apa yang menjadi penyususn kebaikan dan apa yang paling sesuai dalam kehidupan ini bagi penghidupan manusia. Sementara banyak pemikir yang berpegang pada kekayaan dan kesehatan, stoa berpegang teguh pada criteria bahwa yang hakiki harus baik di segala kondisi. Tidak selamanya kekayaan itu baik, jika hal itu membuat dirinya atau orang lain menjadi susah atau rusak. Bahkan kesehatan yang berjalan kea rah kekuatan dianggap tidak baik, jika membahayakan diri sendiri dan orang lain. Stoa menyimpulkan bahwa satu-satunya kebaikan yang tidak memiliki cacat adalah kebajikan.
Penulis melihat bahwa apa yang diajarkan oleh Zeno memiliki kesejajaran dengan pemikiran Lao Tse (abad ke 6 SM). Lao Tse merupakan pendiri Taoisme di Cina. Lao Tse menekankan kesederhanaan dan keselarasan dengan alam semesta. Kebahagiaan hanya diperoleh denga kehidupan yang selaras dengan Tao, yang erupakan sumber impersonal segala sesuatu, sekaligus alam yang berubah secara spontan.
Belajar dari pemikiran Stoa, seperti yang telah dijabarkan secara panjang lebar di atas, ada baiknya jika pemikiran itu di daratkan dalam konteks masyarakat. Lebih dekat lagi kita bicara tentang kerusakan lingkungan akhir-akhir ini dan sikap pemerintah yang seolah-olah acuh tak acuh dengan berbagi penindsan dan ketidakdilan di masyarakat.
Dewasa ini kita menghidup dunia yang kian sekarat. Pengrusakan lingkungan, pembabatan hutan secar liar, penyebaran gas beracun di udara akibat bom dan asap-asap pabrik, pembuangan limbah pabrik ke sungai dan laut, dan berbagai kejahatan lingkungan lain mengindikasikan bahwa bumi kita benar-benar kritis. Siapa yang mau peduli dengan semua ini? Pemerintah? Mereka hanya sibuk dengan korupsi dan urusan-urusan lain yang menguntungkan mereka. Masayarakat? Juga bayak tidak peduli, yang dipedulikan adalah perut sendiri. Agama? Tidak jarang agama dijadikan legitimasi untuk mengeksploitasi alam. Belajar dari Stoa, semestinya kita malu dengan relati ini. Satu hal yang penulis lihat kalau mau jujur, justru agama-agama suku seperti Kaharingan Marapu, Kejawen dll yang begitu menjaga kestabilan akselerasi antara alam dan pola hidup mereka.
Bagaimana dengan pemerintahan kita? Pemerintahan kita bukanlah orang yang bijaksana melainkan oknum yang suka bajak sana dan bajak sini. Bagaimana tidak! Jika APBN, pajak, dan berbagai fasilitas yang seharusnya disediakan untuk kemaslahatan masyarakat banyak, dikorupsi secara massal dan sistematis, bukankah itu pembajak? Mungkin terdengar sadis tetapi lebih sadis jika kita melihat akibat yang ditimbulkan oleh ulah pemerintah kita. Orang makan nasi aking, pengemis dan anak jalanan yang jumlahnya kian meresahkan dan tingkat kriminalitas yang tinggi akibat susahnya mencari sesuap nasi adalah dampak dari korupsi pemerintah kita. Cukuplah kiranya untuk mengatakan bahwa pemerintah kita adalah orang yang bukan mewakili kepentingan masyarakatnya. Stoa justru mengajarkan yang sebaliknya.
DAFTAR PUSTAKA
Hanafi, Ahmad ,M.A, Pengantar Filsafat Islam, Bulan Bintang: Jakarta,1990
Van Peursen, Cornelis, Orientasi di Alam Filsafat, PT Gramedia: Jakarta,1988 Bertens,K, Sejarah Filsafat, Kanisius: Yogyakarta, 2006
Yuana, Kumara Ari, The Greatest Philosophers- 100 Tokoh Filsafat Baru dari Abad 6 SM- Abad 21 yang Menginspirasi Dunia Bisnis, Andi:Yogyakarta,2010




9:15 PM
Donatta Taranau
, Posted in
0 Response to "Belajar dari Filsafat Stoa"
Post a Comment