JANGAN RENDAHKAN TUHAN DALAM HURUF-HURUF MEMATIKAN
Tesis dasar yang hendak saya ungkapkan disini ialah bahwa “Tuhan merupakan suatu realitas yang hanya dapat dimaknai dalam praksis”. Perjumpaan seseorang dalam kehidupana praksis berlaku secara individual dan sosial, yang jalinannya terdiri dari segala yang dilakukan oleh manusia dan terhadap manusia—berpacaran dan menikah, menabur dan menuai, memproduksi dan mengkonsumsi, membeli dan menjual, merencanakan dan mengorganisasi. Ini adalah dunia praksis , yang berarti proses historis di tempat manusia mentransformasikan lingkungan benda, manusia serta struktur mereka (ekonomi, sosial, politik dan budaya). Praksis terdiri dari bukan saja tindakan (action) melainkan juga gairah (passion), “gairah dari” selaku keterbukaan terhadap misteri kehidupan dan “gairah untuk” selaku perjuangan akan nilai-nilai, cita-cita dan tujuan. Dunia praksislah yang menjadi penerobosan kehadiran (presence) dan nilai-nilai (values) Ilahi.
Penekanan saya pada praksis bukanlah sebuah jalan tengah (midlle way) dalam berteologi. Saya tidak bermaksud mencari jalan baru bagi pemaknaan akan realitas Tuhan. Tapi saya melihat bahwa teologi yang selama ini mengimanensikan Tuhan pada simbol-simbol religius—entah itu simbol kata (mitos,legenda, kredo, kitab suci), simbol-simbol tindakan (kultus,doa,upacara-pacara keagamaan),simbol benda (kuil,altar, makanan yang disucikan) atau simbol-simbol manusia (imam- guru-guru agama, pendeta, pastor); semua ini paling bentar hanya berupa bentuk yang di dalamnya hanya bersifat jiplakan.
Tidak ada satu bentukpun dari simbol-simbol itu yang dapat mengungkapkan isi sebenarnya; tidak ada satu simbolpun mampu mengekspresikan kekayaan pengalaman aslinya, yang tak terlukiskan dan tak dapat diukur. Lebih lanjut, bentuk-bentuk dan simbol-simbol ini bahkan menyelewengkan apa yang ingin disampaikan dan dengan demikian bersifat terasing (alienation) dan mengasingkan (alienated).
Sifatnya yang terasing dan mengasingkan dari simbol inilah yang dapat kita lihat pada pengalaman hidup dan pluralisme geraja di Indonesia. Ada kecendrungan bahwa pluralitas gereja menciptakan demarkasi (garis batas) Teologi, Misiologi dan Eklesiologi antargereja. Tidak ada upaya yang sistematis untuk memperpendek jarak perbedaan antara gereja-gereja. Kalaupun ada, hanya bersifat sporadis dan tidak dirancang secara serius. Jika dirancang secara seriuspun sering berhadapan dengan benteng-benteng dogma dan struktur kekuasaan gereja. Akibatnya, persekutuan gereja bersifat ikatan rapuh (fragile unity), sangat rapuh dan sering lekang oleh waktu. Kenyataan ini bukan tanpa jejak di Indonesia, gereja-gereja sering memperdebatkan persoalan-persoalan yang tidak substansial. Hitung saja perdebatan apakah baptisan yang benar itu selam atau percik; apakah dalam tata ibadah harus memakai band atau cukup dengan organ; apakah keuangan gereja harus diatur pendeta atau majelis gereja; dan masih banyak lagi “kepalsuan” lain.
Meminjam istilah Arnold Toynbee dalam A Study of History (1954) tentang yang essence dan un-essence, gereja-gereja menghabiskan waktu untuk memperdebatkan apa yang termasuk un-essence. Persoalan cult (peribadatan), code (aturang gereja), dan creed (ajaran-ajaran) merupakan persoalan-persoalan yang terus didebat. Akibatnya gereja sering mengabaikan yang essence yaitu Tuhan yang berinkarnasi dalam wujud manusia Yesus Kristus. Yang lebih luas dari semua itu ialah umat dijadikan sebagai Churchian (pengikut gereja) dan bukan Christian (pengikut Kristus)
Persoalan pokok yang menjadi keprihatinan saya ialah corak Gereja yang bibliotary (penyembahan terhadap Alkitab). Mereka pikir bahwa jawaban semua persoalan ada di Alkitab seperti yang tertulis. Padahal, situasi sosial saat ini, tidak sepenuhnya relevan dengan situasi sosial zaman Alkitab, tetapi dipaksakan. Akhirnya apa? Gereja kehilangan daya kritiknya!
Sikap ini tidak bisa terlepas begitu saja dari warisan para zendeling dan juga pengaruh perkembangan teologi revival dan fundamentalisme di negara-negara Barat. Dengan didukung oleh pemahaman biblisistis yang eksklusif , teologi diarahkan pada pertumbuhan atau perbanyakan gereja dan pertobatan jiwa-jiwa. Biasanya Injil Yoh 14:6......”Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku..” dipahami sebagai ayat yang mengharuskan untuk melakukan pertobatan dunia. Demikian juga ayat-ayat yang berbunyi...”pergilah jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus (Mat 28:19) menjadi landasan utama untuk mengkristenkan orang lain dan memasukkannya dalam dunia Kristen.
Dalam warisan teologi seperti ini, gereja-gereja di Indonesia menjadi kurang mampu melihat hubungan agama-agama sebagai keharusan dalam mengembangkan teologi dan berteologi, sambil bersama-sama umat lain mengelola persoalan sosial-politik demi mencari daya-daya pembebasan. Citra bibliotarisame dalam proses berteologi tersebut melegitimasi upaya kerukunan yang bersifat politis semata, tanpa penyadaran teologis.
Di sisi lain, pengaruh teologi revivalisme yang berorientasi pada peningkatan pertobatan jiwa menjadi populer dewasa ini. Seringkali, kebangkitan agama seperti itu dijadikan dalih dalam mencari keseimbangan terhadap perkembangan ilmu dan tekhnologi yang sangat profan dan sekuler. Namun ironisnya, revelisme tersebut ditandai dengan pengajaran-pengajaran yang sederhana dan miskin, dengan cara mengindoktrinasi keompok-kelompok masyarakat yang terdiri dari generasi-generasi muda dengan ayat-ayat yang parsial.
Ayat-ayat itu dipahami secara mentah dan dianggap sebagai “ayat suci” yang dapat dijejalkan kepada orang lain. Akibatnya, muncul suatu kehidupan rohani yang dangkal, tidak utuh, anti-sosial dan serba instan yang sebenarnya pasti gagal, mandul dan pastinya merendahkan Tuhan.
Tahapan Historisitas Teologi
Di atas saya telah mengungkapkan pendirian saya. Nah, pada sub judul ini, saya akan lebih mengeksplorasinya melalui kajian teologis yang mengacu pada 2 situasi asli agama kita ditambah teologi pembebasan di Asia dan Afrika. Ketiga babakan sejarah teologi ini akan sangat membantu kita memahami Tuhan yang menyejarah dan universal; bukan Tuhan yang metafisis dan partikularis. Ketiga babakan agama asli itu yakni: Semitis, Yunani dan kini yang bercorak teologi pembebasan.
Teologi-telogi Yahwis, sejarawan Deuteronomis, Yesaya, Sinoptis, Yohanes bahkan Paulus, terhisap pada tahapan Semitis. Para bapa Gereja Yunani dan Latin, Skolastik, para teolog Barat kontemporer (seperti: Rahner, Schillebeeckx), teolog yang terkandung dalam dokumen-dokumen konsili agung, juga Vatikan II, termasuk pada tahapan Yunani. Sedangkan teologi Asia dan Afrika merupakan sebuah teologi yang lahir dari dialektika antara konteks dan teks, atau dalam bahasa modernnya kontekstualisasi/pempribumian teologi.
Teologi yang dikonsepkan dalam tahapan Semitis memahami bahwa Allah yang mereka kenal ialah Allah yang dari jauh (God from afar), yang menyatakan diri dalam sejarah mereka. Menarik yang dikatakan Max Weber dalam bukunya Ancient Judaism (1952)...Yahweh bukanlah ilah lokal atau pribumi. Israel bukan dilahirkan dari Yahweh”. Dapat dikatakan bahwa relasi-Nya dengan Israel merupakan relasi “pengadopsian”. Secara asali, tidak ada ikatan “darah” dan “tanah” diantara mereka. Bilamana kedua pihak tidak memiliki ikatan alamiah namun hendak menjalin relasi, maka relasi diantara keduanya berbentuk perjanjian (covenant) yang hanya bisa dijalin melalui keterlibatan pribadi yang bersifat sukarela. Disinilah kita menemukan penjelasan mengapa ide “perjanjian” memperoleh tempat yang begitu sentral dalam agama Israel.
Pemahaman tentang “Allah dari jauh” perlu dikongkretkan maknanya agar kita tidak terjebak dalam pemahaman yang keliru bahwa Allah yang transeden itu adalah Allah yang jauh. Allah dari jauh adalah Allah yang menyiratkan bahwa ikatan antara Allah dan manusia hanya terjadi melalui kedatangan-Nya dalam eksistensi makhluk-yaitu dengan jalan Ia sendiri yang menyebrangi kesenjangan lebar antara Allah dan manusia. Allah bagi Israel adalah Allah yang “asing”, sama asingnya dengan cerita Perjanjian Baru ..”orang Samaria yang murah hati”, dimana keasingan itu lebih dimaknai sebagai menghampiri dan menjadi akrab.
Berdasarkan penjelasan singkat ini, saya menafsirkan bahwa transendensi Allah dalam pemahaman Allah dari jauh bukan sebagai keberadaan Allah yang jauh dari manusia, melainkan Allah yang mendatangi manusia dari jauh. Dalam ungkapan ini, transendensi Allah tak lain dari perwujudan anugerah dan realitas keselamatan dari-Nya dalam sejarah umat Israel.
Dalam mengkaji tahapan Yunani ini, ada dua hal yang mesti dikemukakan agar kita terhindar dari subyektifitas dan pada akhirnya salah kaprah. Pertama, untuk rentangan waktu yang lama dan dengan bobot yang penting, maka teologi bersifat metafisis dan karenanya a-historis, yaitu berkaitan dengan realitas religius yang dibatasi pada hakikat metafisis saja. Misalnya, hakikat Allah sebagai trinitas, Kristus yang berinkarnasi, sifat Ilahi Bunda Maria, hakikat sakramen dan lain sebagainya. Kedua, sejauh teologi tersebut mulai menggantikan pentingnya sifat metafisis, serta telah menjadi eksistensial, eksperimental atau bahkan historis, sebagaimana halnya dari pengalaman Barat kontemporer, maka tetaplah teologi tersebut muncul dari pengalaman Barat dan dunia pertama.
Baiklah saya akan melakukan refleksi teologis terhadap tradisi Yunani dan Barat kontemporer yang dimulai sejak abad kedua sampai sekarang. Berikut ini adalah beberapa observasi saya:
1. tahap Yunani merupakan salah satu tahapan utama dalam produk teologi pribumi dan merupakan produk teologi pribumi yang sah;
2. dengan kadar yang penting, perhatian dicurahkan pada hal-hal yang metafisis. Misalnya, pertanyaaan yang pada waktu itu memang penting....”siapakah Allah”? “Apakah hakikatnya”?. Dengan mengatakan teologi bercorak metafisis, bukan berarti bahwa hal itu sebagai suatu kesalahan, namum ia hendak mengemukakan satu ciri dari satu tahapan dalam tradisi teologi Kristen;
3. produk teologis semasa kurun waktu itu, telah terajut dan teranyam secara budaya. Artinya, masalah-masalah teologis yang ada memang muncul dari situasi budaya dan kehidupan kongkret, dan telah direfleksikan dalam pola nalar dan kategori khusus budaya yang bersangkutan serta diartikulasikan dalam bahsa khas budaya yang bersangkutan pula;
4. kita perlu mengkaji tahapan ini secara serius sebagai bagian dari sejarah agama sendiri untuk menemukan makna yang hakiki dari menjadi Kristen dalam kancah sosial kita.
Pada bagian kempat di atas, saya telah dan sedang memulai suatu refleksi teologis yang seharusnya dimiliki dalam kancah sosial masyarakat kita. Dengan mengatakan demikian , secara tidak langsung saya mau mengatakan bahwa refleksi teologis Yunani dan Barat kontemporer tidak esensial dalam rangka pempribumian teologi dalam kancah kita. Kenapa demikian? Jawabannya sangat superfisial yaitu karena kita tidak dapat menghasilkan teologi yang memang lahir dari sini dengan menerapkan produk teologis Barat. Bukankan produk teologi dalam Alkitab juga sama terkaitnya dengan budaya? Betul! Tetapi jangan kita lupa bahwa bila refleksi teologis dilakukan “di bawah terang iman”, maka kita harus menemukan iman dan beritanya dalam kancah lain.
Dimanapun kancah tersebut, ia akan selalu terkait dengan budaya; oleh karena itu, tampaknya kita menghadapi jalan buntu. Atau, lebih tepatnya, kita dipaksa untuk memilih salah satu diantara serangkaina ekspresi iman teologi yang terkait secara budaya.
Jika saya dihadapkan pada situasi ini dan harus memilih, saya akan memilih yang Semitis atas dasar alasan: pertama, pada tahap Semitis, saya menumukan sejarah penyelamatan yang dikisahkan secara utuh, dalam keseluruhan nafasnya, yakni karya penyelamatan dalam sejarah satu komunitas manusia, dari penciptaan menuju karya penyelamatan final Kristus, akhirnya menuju penggenapan pada parousia.
Masih dalam alasan yang sama, saya menemukan betapa dikisahkan keprihatinan Allah terhadap kehidupan dan “keselamatan” total bagi manusia individu, umat manusia dan ciptaan seutuhnya. Juga perihal keprihatinan Allah bagi segala bentuk dosa manusia, serta keprihatinan Allah baik terhadap dunia ini maupun bagi dunia yang akan datang.
Kedua, ia (tahap Semitis) kurang tertarik pada deskripsi metafisis tentang hakikat sesuatu seraya lebih menaruh perhatian pada sejarah, yaitu peristiwa-peristiwa manusia serta keterlibatan dan kegiatan Allah di dalamnya. Alasan ketiga yaitu bahwa ia lebih dekat pada jiwa ketimuran kita dan aspirasi dunia ketiga.
Menurutmu Siapakah AKU Ini? Gambaran Kita Mengenai Kristus
Permasalahan lain yang turut menjadi keprihatinan bersama para teolog dan gereja-gereja dewasa ini ialah bagimana seharusnya memandang Kristus! Bagaimanapun sosok Kristus dalam kekristenan merupakan sosok sentral yang menjadi identitas tersendiri dan sekaligus sebagai pembeda dari agama-agama lain. Sayangnya, karena didorong oleh semangat triumphalisme (teologi keagungan) yang lebih menekankan “Allah Kristus yang bangkit”, penekanan Kristologi dipahami secara eksklusif dan berat sebelah. Sejalan dengan semangat triumphalisme juga, globalisasi Injil dan kekristenan dari Eropa berlangsung ke penjuru dunia. Dan, karena itu tidaklah merupakan suatu persoalan bersama dalam satu kapal kolonialisme dan imperialisme Eropa.
Penekanan pada Kristologi yang berat sebelah dan telah melahirkan sikap eksklusif dan arogansi, pada saat yang sama menjadi bom waktu yang memiliki ledakan dahsyat. Bagimana tidak, teologi yang semula adalah “queen of science” namun ketika rasionalisme abad ke-18 dan 19, atau meminjam istilah Hans Kung yang menyebutnya sebagai periode reformasi dan pencerahan, teologi benar-benar didepak ke titik nadirnya. Dampak paling ekstrem dari arogansi ini ialah gereja hanya sekedar menjadi satu “museum” untuk menyimpan dan memaerkan warisan masa lampau.
Kini gereja memasuki milenium ketiga yang ditandai dengan pluralisme sosial dan agama, dimana terjadi perjumpaan antara tradisi dan agama yang berbeda-beda. Perlu digarisbawahi bahwa arus pluralisme yang terjadi saat ini berlangsung sangat cepat dan bersifat meniadakan. Dalam situasi ini, gereja diperhadapkan pada dilema yang sama-sama berat. Pada satu sisi, dia harus mempertahankan teologi triumphalismenya yang berat sebelah tetapi kehilangan peran dalam lingkup sosial dan sekaligus digilas oleh arus pluralisme atau berpartisipasi dalam situasi sosial dan mengabaikan identitas yang didewakan.
Dalam situasi yang dilematis ini, gereja cenderung mengabaikan Kristologi, trinitas dan inkarnasi lalu beralih ke pneumatologi (ilmu tentang Roh).
Mari kita mengkaji situasi ini. Pendekatan pneumatologi merupakan pendekatan yang sah. Dalam Perjanjian Baru Kristus diakui sebagai Roh. Kalau Allah adalah Roh dan Roh ada dimana-mana dan tidak mesti dibatasi oleh perumusan Kristiani mengenai Allah, maka seyogianya pengakuan kita pada Kristus sebagai yang menentukan dengan apa yang diakui oleh yang lain sebagai yang menentukan tidak perlu dipertentangkan.
Namun yang menjadi soal ialah apakah artinya kekristenan jika Kristus tidak dipahami secara proporsional tetapi diabaikan demi memuluskan kerukunan? Berbeda dengan pola pendekatan gereja di atas, saya meyakini bahwa Kristologi merupakan bagian dari masalah-masalah sosial yang ada. Masalahnya ialah bagaimana merekonstruksi cara berpikir kita mengenai Kristus dan bagaimana mengimplementasikannya dalam masalah-masalah sosial yang ada.
Gambaran Kristus yang kita warisi ialah gambaran Kristus yang berasal dari dunia yang homogen sifatnya. Kristus adalah penguasa dan penakluk dunia, Kristus adalah King of Kings, Raja diatas segala Raja. Dari gambaran ini, yang lain langsung ditiadakan atau dikerdilkan dan ini dirasakan sangat ofensif bagi yang lain. Gambaran ini, secara kebetulan atau tidak memiliki kesejajaran dengan penyebaran kolonialisme dan imperialsme Barat yang sama sekali tidak peka dan membabi buta dengan kemajemukan.
Dalam Perjanjian Baru, Kristus disebut Kurios, “penguasa”. Konteksnya ialah perlawanan terhadap Kaisar yang menganggap diri Kurios, yang menguasai segala sesuatu. Dalam arti tertentu, gambaran Perjanjian Baru ini dapat kita aktualisasikan dalam perjuangan melawan totaliterisme. Namun, gambaran ini tidak sesuai kalau diterapkan pada eksistensi agama-agama lain. Maka, sekalipun gambaran Kristus sebagai Kurios sangat dominan dalam PB, tidak perlu kita jadikan satu-satunya gambaran mengenai Kristus dalam kehidupan agama kita. Kita perlu terbuka pada gambaran lain dari Alkitab yakni gambaran Kristus sebagai Hamba-Mesias.
Dengan mengusung peran Kristus yang diabaikan ini, kita bisa terhindar dari gambaran Mesias yang triumfalistik tetapi tidak menghapus sama sekali. Gambaran Mesianik ini. Kristus adalah Mesias, namun Mesias yang sekaligus hamba. Kalau kita mengingat kembali teologi biblika mengenai sejarah pemahaman orang beriman terhadap Yesus dan karya-Nya, maka kita akan melihat bagaimana suatu arus dalam Perjanjian Lama, yakni penantian akan Mesias digabungkan dengan arus lain yaitu pemahaman diri bangsa Israel sebagai hamba Tuhan. Itulah yang menghasilkan pemahaman Yesus sebagai Mesias yang menderita.
Jika Kristus adalah Hamba yang menderita, itu berarti ada segi kemanusiaan (humanity) dari Kristus yang perlu mendapat porsi yang didudukkan secara seimbang. Dalam artian, kita tidak saja berbicara tentang Kristus yang Ilahi tetapi juga Kristus yang adalah manusia. Dalam sejarah gereja, kita melihat bahwa setiap usaha yang mau memutlakkan salah satu aspek dari diri Yesus, akhirnya dicap sebagai ajaran yang menyeleweng.
Dalam sejarah PI di Indonesia, kita menemukan bahwa acapkali Kristus dikabarkan dengan tekanan yang terlampau berat pada satu segi saja, yakni keilahiannya. Akibatnya, gereja amengabikan misteri tentang inkarnasi dan situasi ini sama dengan membuang muiara ke mulut babi. Umat hanya menjadi orang-orang khusuk berdoa, mengikuti rutinitas kegiatan gereja dan bibiliotarisme. Pengaruh lain dari aspek ini ialah kekakuan dan impoten terhadap masalah yang bersifat kemanusiaan.
Dimanakah Posisi Alkitab?
Lalu dimanakah tempat Alkitab dalam tradisi Kristen? Sebelum kita sampai pada jawaban atas pertanyaan ini, mari kita sejenak melihat fakta-fakta tak terelakkan dari corak hidup kristiani dalam memperlakukan Alkitab. Jutaan manusia memandang Alkitab sebagai buku yang turun dari langit dan menganggapnya sebagai sumber yang Ilahi. Mereka mengira bahwa Allah menyatakan Alkitab kepada orang-orang yang menulisnya. Dengan demikian Alkitab digambarkan seperti kain yang tak berkelim, atau sebagai Firman Allah bagi manusia.
Dengan pandangan yang demikian, mereka membaca Alkitab seolah-olah Alkitab adalah kesatuan yang utuh, Firman Allah dan tidak mungkin salah (ineransi Alkitab). Sehingga ketika mereka mendengar ahli biblika mengatakan bahwa Adam dan Hawa sebenarnya tidak pernah ada, atau tidak pernah pula ada bahtera Nuh, serta meragukan pernyataan bahwa tembok Yerikho pernah runtuh; mereka segera mencap para ahli sebagai orang-orang yang meremehkan Alkitab dan meruntuhkan kewibawaan Alkitab.
Berbeda dengan pandangan pertama, ada juga pandangan lain yang kritis dalam membaca Alkitab. Mereka menemukan banyak ketidaksingkronan cerita dalam Alkitab dan juga banyak cerita “fiksi” dan legenda yang tertulis dalam Alkitab yang pada akhirnya menyimpulkan bahwa Alkitab tidak akurat dan jika demikian, kita tidak boleh mempercayainya lagi.
Terhadap dua pandangan inilah, saya sebagai bagian dari tradisi Kristen terpanggil untuk menjernihkan apa yang menjadi polemik dalam tradisi gereja yang berlangsung sudah berabad-abad sampai detik ini dan bakan masih terus berlanjut.
Baiklah saya akan mengkritisi secara obyektif kedua pemahaman ini. Saya akan memulai dengan pandangan pertama. Dengan mengatakan bahwa Alkitab tidak mungkin salah, kita akan terjebak pada bibliotarisme (penyembahan pada Alkitab).pandangan ini, sama dengan apa yang diwariskan Lenin kepada orang Rusia. Di salah satu kuburan di Moscow, terbaring jenazah Vladimir Lenin. Melalui kebaikan pengurus kuburan disitu, Lenin menerima anugerah seperti yang diterima “orang-orang kudus”; negeri Rusia mau mengenang pendiri komunisme. Karena kenangan yang membuat Lenin menjadi berhala ini, maka dalam waktu lama Rusia (sekarang Negeri Kesatuan Soviet) menangung kesulitan mengubah dirinya dengan tantangan baru yang muncul.
Sekalipun negeri komunis ini telah mengubah karakternya jauh dari apa yang diharapkan Lenin, tetap saja tokoh yang telah menjadi mumi ini, mempengaruhi kehidupan disana. Sebab, dengan adanya mumi itu, orang Rusia dipaksa untuk meyakini bahwa rezimnya merupakan puncak dari kecerdasan manusia.
Seperti itulah gambaran saya, jika mempertahankan ineransi Alkitab. Walaupun mungkin tidak sama, tetapi jujur atau tidak, sadar atau tidak, dengan memertahankan pandangan ini, kita berada pada situasi yang sama yakni pemberhalaan. Pemberhalaan inilah yang menyebabkan banyak orang Kristen yang bersikap anti terhadap sesuatu yang baru dan bahkan bahkan anti dengan urusan “duniawi”, seperti masalah sosial, politik,ekonomi dan pertahanan keamanan.
Disisi yang lain, pengakuan bahwa Alkitab tidak mungkin salah, akan mengejutkan mereka sendiri. Jika kita mencermati pengakuan Paulus....”karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar. Tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti, aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal (I Kor.12:13). Dari pengakuan ini, para rasul tidak pernah mengklaim bahwa Alkitab itu tidak mungkin salah; yang mereka mau tegaskan ialah bahwa ada pengilhaman. Nah, biasanya orang akan menyamakan begitu saja kata “tidak mungkin salah” dengan kata pengilhaman (inspirasi). Padahal, kateika Allah mengilhami para Nabi dan para Rasul, Allah tidak memberi kata-kata atau fakta-fakta begitu saja, tetapi memampukan mereka melihat kenyataan yang ada dalam terang makna terakhir (the ultimate) dan mengajak mereka mengungkapkan dalam bahsa yang mereka pakai sehari-hari.
Dengan demikian, jika mereka menganggap bahwa Alkitab itu merupakan buku dari langit dan dokumen yang dari Alllah, dan ditulis tanpa kesalahan apapun, hanya isapan jempol belaka. Sebab, Alikitab mencatat proses bagaimana umat percaya dalam sejarah mencoba mengamati kehadiran Allah dalam kehidupan mereka—Allah yang sesungguhnya imanen dan transenden itu, yang juga mensyaratkan mereka agar bergerak maju ke kaki langit kehidupan ini.
Mari kita mencermati pandangan kedua! Jika ada yang berpikir bahwa Alkitab tidak dapat dipercayai, tentu adalah suatu sikap yang sepenuhnya keliru. Sama seja dengan mengartakan...”throwing the baby out with the bath water” (Artinya:membuang apa yang tidak kita inginkan tetapi kehilangan apa yang justru paling penting). Sebab suatu karya tulis bisa saja tertera dengan catatan yang tidak akurat, namun dengan demikian karya tersebut tidak harus dianggap gagal sebagai suatu karya, sekalipun ada yang nyata dan ada yang fiksi (karangan), cerita tersebut secara keseluruhan pasti berkenaan dengan hal yang otentik. Kisah itu memampukan pembaca memasuki dunia yang dibawa oleh penulis mengenai apa yang terjadi dalam masayarakat pada waktu itu.
Banyak kitab-kitab dalam Alkitab kita yang ditulis seperti suatu novel sejarah. Dan menjadi tugas arkeolog dan ahli biblikan untuk memisahkan mana yang nyata dan mana yang karangan. Bagi saya, yang utama ialah memahami kebenaran yang besar yang mau ditujunjuk oleh cerita tersebut, entah itu fiksi atau fakta, tetapi ia berniat mengubah hidup dan cara pandang kita.
Sekarang sampailah kita pada pertanyaan pertama...dimana posisis Alkitab dalam tradisi Kristen? Bagi saya, Alkitab menjadi sumber yang bermanfaat namun bukan menjadi buku hukum atau peraturan. Berkali-kali Yesus mengarahkan umat percaya di zamannya agar menjauhi tafsiran yang kaku, yang akan membekukan kitab suci. Tetapi, apa yang tertera disitu, harus dinilai bukan dari yang harafiah, bukan juga serba simplisistis dan hany membaca di permukaan saja, tetapi melihat ke dalam dan mengajukan penilaian yang tepat atas isu itu.
Yesus tidak mewariskan kepada kita sebuah buku atau petunjuk yang menjawab setiap persoalan. Ia meninggalkan kepada kita suatu komunitas yang hidup, dengan tradisi yang diturunalihkan dari satu persekuatuan ke persekutuan lainnya, dan dipercakapkan dalam persekutuan itu juga dimodofikasi serta ditambahkan. Jadi, sebenarnya yang menjadi penulis Perjanjian Baru adalah paguyuban itu sendiri. Tulisan-tulisan itu muncul dalam persoalan yang terjadi dalam kehidupan gereja mula-mula, dan masing-masing ditulis untuk menjawab isu nyata.
Saat gereja bergumul mencari “gaya hidupnya” di abad 21 ini, orang lain juga ingin mengetahui apa yang Alkitab katakan dan apa yang telah disebut itu mengandung kebenaran atau tidak. Kita tentu tahu tidak ada jawaban yang mudah untuk hal ini. Upaya membeberkan ayat-ayat Alkitab. Sekali lagi tidak bisa menjawab hal tersebut. Pengalaman telah mengajarkan kepada kita bahwa penyataan Allah tidak muncul dalam bentuk suara yang tidak bisa salah dan yang langsung dari langit. Tuhan, bagimanapun tidak pernah muncul di layar TV. Tetapi sebaliknya, pandangan yang mendalam mengenai yang tak terbatas akan mempengaruhi intuisi dan pikiran kita yang terbatas dan biasa-biasa saja. Dunia sehari-hari inilah, dengan semua yang biasa-biasa, yang menjadi tempat pengungkapan diri sang pencipta.
Untuk itu, jika kita ingin mengetahui kebenaran dan dimerdekakakn olehnya, kita perlu memasuki dialog dengan zaman kita sendiri. Dialog itu perlu dilakukan dengan mata dan telinga terbuka dan pikiran yang siap untuk mengkrititsi dan meneliti setiap persoalan-persoalan praksis dalam kehidupan sehari-hari.
Seperti yang dikatakan Karl Barth bahwa orang Kristen yang baik adalah mereka yang membaca surat kabar dan juga Alkitab. Artinya, orang kristen dituntut untuk mengamati apa yang ada pada zamannya sebagai kebenaran, lalu mempertanyakan kebenarana itu. Kita akan diperhadapkan pada tantangan-tantangan dari oknum-oknum yang tidak sudi kalau tradisi dan keyakinannya dipersoalkan, kita akan tetap tetap melanjutkan untuk mempersoalknnya mengkaji ulang dan merumuskan secara baru. Hanya melalui upaya mempersoalkan ulang isi iman alkitabiah, gereja dapat hidup dan mampu memerdekakan Tuhan dari gedung-gedung ibadah dan memaknainya dalam kehidupan praksis.
By: Asnafri Taranau




2:55 AM
Donatta Taranau
,
0 Response to "JANGAN RENDAHKAN TUHAN DALAM HURUF-HURUF MEMATIKAN"
Post a Comment