Saatnya untuk “Menyehatkan” Parpol

Pemilihan umum (PEMILU) merupakan ciri utama demokrasi, namun pemilu saja belumlah memadai untuk sebuah demokrasi. Sebuah Negara tidak bisa disebut demokratis hanya karena ia menyelenggarakan pemilu. Di masa Orde Baru, kita berulang kali mengadakan pemilu, tapi tidak seorangpun yang menganggap negeri kita demokratis. Harus ada setidaknya tiga syarat minimum bagi pemilu yang benar, yakni bersifat umum, bebas dan rahasia.

Demokrasi adalah sebuah prosedur untuk rekrutmen jabatan-jabatan publik dengan melibatkan partisipasi masyarakat. Kalau dijabarkan, itu berarti pemilu yang bebas, umum dan rahasia. Kalau pemilu tidak bebas, itu bukan pemilu demokratis. Indikasi bahwa sebuah pemilihan umum itu bebas dan demokratis adalah apabila ada keterbukaan dan kebebasan untuk bersaing diantara elit atau orang-orang yang tertarik untuk masuk ke dalam jabatan publik.

Jadi pemilu memang merupakan ciri utama demokrasi. Tapi penekanannya bukan pada pemilu itu sendiri, melainkan pada kebebasan di dalamnya –kebebasan untuk bersaing dan kebebasan memilih orang-orang yang bersaing  itu. Dalam konteks persaingan tersebut tentu saja orang juga harus punya kebebasan untuk memobilisasi segenap sumber dayanya termasuk untuk membentuk partai politik.

Dengan kata lain, partai politik merupakan “kendaraan” politik para elit-elit politik dalam upaya mencapai kekuasaan politik dalam suatu Negara. Selain sebagai "kendaraan" untuk memuluskan jalan menuju tampuk kekuasaan, parpol juga merupakan wadah  yang memediasi antara masyarakat luas dengan para elit dalam proses memerintah. Ia memperantarai, mengagregasi, mengartikulasikan keinginan-keinginan masyarakat supaya didengar dan dirumuskan menjadi kebijakan-kebijakan publik. Kalau tidak ada partai politik, siapa yang mau menghubungkan masyarakat yang ada di Nusa Tenggara dengan para elit yang ada di Jakarta? Dalam hal ini yang penting bukanlah nama pengelompokannya ("partai politik"), melainkan fungsinya. 

Supaya intermediasi tadi terkontrol dalam demokrasi, maka tidak mungkin dalam demokrasi itu hanya ada satu partai politik. Karena, sekali lagi prosedur itu dimungkinkan bisa jalan hanya jika dasarnya adalah kebebasan, sehingga ada persaingan--termasuk persaingan antar partai politik. Jadi diantara partai-partai politik ada checks and balances, saling mengontrol. Kalau hanya ada satu partai politik, kontrol terhadap intermediasi kepentingan masyarakat di bawah dengan elit tidak akan terjadi. Bahkan aspirasi itu bisa didistorsi dan dimanipulasi oleh partai politik yang tunggal tadi. Tapi kalau minimal ada dua partai politik yang bersaing dengan bebas, ada insentif besar untuk memenuhi harapan-harapan masyarakat. Sebab kalau tidak, orang bisa pindah ke partai lain. Disitulah aspek proseduralnya. Karena itu, secara inheren di dalam demokrasi yang demikian adanya representasi. Artinya, partai politik dan representasi itu harus kompetitif, dan watak kompetitif itu dimungkinkan kalau ada minimal dua agen yang bersaing. 

Dalam masyarakat yang heterogen seperti Indonesia, dengan bertumbuhnya semangat partisipasi dalam perpolitikan yang ditandai dengan menjamurnya partai politik, sangat sulit untuk membuat sistem kepartaian yang sederhana. Alasannya ialah karena partai-partai politik itu tumbuh dari bawah. Kalau masyarakatnya sangat majemuk, maka akan majemuk pula partai-partai. Dengan kata lain, partai politk merupakan representasi dari pluralitas yang ada di masyarakat. Ini akan menimbulkan masalah, sebab ia menyangkut efektifitas dan efisiensi dari pelaksanaan demokrasi itu sendiri. Dalam masyarakat yang sangat majemuk, demokrasi biasanya sulit matang. Salah satu sebabnya ialah karena di dalam masyarakat majemuk akan banyak terlalu banyak partai politik sebagai representasi dari kemajemukan tersebut. 

Banyaknya jumlah partai itu membuat proses pengambilan keputusan tidak gampang, sehingga demokrasi memberi kesan bertele-tele, terutama kalau ia diisi oleh sistem multi partai secara ekstrim; ekstrim lainnya ialah sistem dua partai; yangg dianggap moderat adalah sistem tiga sampai tujuh partai. Kondisi multi partai yang ekstrem itu membuat suara jadi terfragmentasi. Pengambilan keputusan harus melalui voting, sementara voting dalam demokrasi membutuhkan mayoritas.

Salah satu jalan keluarnya adalah dengan pembentukan koalisi-koallisi partai yang ada. Tapi membuat koalisipun tidaklah gampang. Bisa terjadi tawar-menawar terus menerus dan prosesnya alot. Polanya adalah "saya dapat apa, dia kebagian apa" . Dalam prosesnya apa yang disebut money politics atau "dagang sapi" dalam peristilahan politik kita -sangat mungkin terjadi. 

Eksintensi Partai Politik Dewasa Ini
Selain ekses-ekses yang sudah disebutkan di atas, sekarang  ini adalah era dimana  politik bertindak sebagai "panglima". Menggusur  ekonomi yang di masa  orde baru sebagai panglima dengan jubah pembangunan. Masuk akal bila panglima yang menjadi sarang penyakit, pada akhirnya menjadi episentrum bagi wabah yang menyengsarakan khalayak. Terlihat bahwa kehidupan berbangsa dan bernegara dikuasai politik yang dikendalikan partai. 

Pencalonan presiden ditentukan partai, anggota parlemen diatur partai, kepala kepolisian, gubernur Bank Indonesia, duta besar, Jaksa agung, ketua KPK, juga menjadi wilayah yang melibatkan partai di DPR. Jadi, inilah gurita parpol yang mendatangkan belenggu amat sistemik kepada bangsa. Semakin  sulit bagi parpol ketika mereka tidak rela dibedah dan dibenah. Maka salah satu aspek restorasi adalah penyehatan partai politik.

Partai politik harus diubah dari perilaku kepura-puraan yang berjubah kesungguhan, menjadi lembaga yang memiliki kesungguhan hati pada keutamaan publik. Sumber kepura-puraan parpol yang kemudian berwujud korupsi dan persekongkolan yang mengkhianati kepentingan publik adalah UANG. Karena itu, bila partai mau disehatkan maka haruslah dipaksa tentang akuntabilitas keuangan partai.

Adalah sangat paradoksal, ketika partai berteriak tentang kekurangan uang, tapi orang berlomba-lomba masuk partai, karena disana ada janji kenikmatan uang yang melimpah. Paradoks ini bertambah rumit ketika mereka yang berpartai adalah kaum kenyang dan kaum lapar yang rakus. Inilah penjajahan karakter yang diderita bangsa dari parpol. Panglima kehidupan yang terus menebar wabah dan tidak mau dibasmi. Panglima yang resisten (menolak) karena kaum lapar dan kaum kenyang berkolaborasi dalam PRAGMATISME KERAKUSAN...

Belajar dari Filsafat Stoa

Pendahuluan
Menyibukkan diri di bidang filsafat bukanlah suatu kegiatan yang hanya dilakukan oleh segelintir ahli saja, melainkan merupakan salah satu ciri kemanusiaan kita. Dalam hal ihwal sehari-hari termasuk juga kadang-kadang pandangan yang lain daripada yang lain terhadap peristiwa-peristiwa sehari-hari itu. Berfilsafat merupakan salah satu kemungkinan yang terbuka bagi setiap orang, seketika ia mampu menerobos lingkaran kebiasaan yang tidak mempersoalkan hal ihwal sehari-hari. Filsafat bertitik pangkal pada pertanyaan. Dan anehnya, pertanyaan tadi menunjukkan kedua arah: kepada arus peristiwa sehari-hari yang kini tidak lagi dianggap serba biasa dan kepada si penanya sendiri.
Dalam arus kehidupan sehari-hari manusia dilingkari oleh aneka macam peristiwa yang langsung dialaminya, seperti bangun tidur, mengenakan pakaian, bekerja dan beristrahat, atau yang tidak langsung sampai kepadanya, namun juga dianggap biasa saja, seperti berita dalam surat kabar atau televise mengenai perkembangan mutakhir dalam politik internasional, bencana alam di salah satu Negara yang jauh atau peristiwa-peristiwa yang menakjubkan. Itulah peristiwa-peristiwa yang yang dialami manusia secara pasif bersama-sama dengan banyak orang lain.
Dengan demikian kita telah melihat bahwa pengetahuan filsafat timbul dari pengalaman sehari-hari dan dari pergaulan kita dengan orang-orang lain dan barang-barang. Berfilsafat pada pokoknya terjadi di tengah-tengah kejadian yang biasa dan menurut hakekatnya selalu bertautan dengan permenungan sehari-hari. Itulah sebabnya mengapa sebetulnya filsafat itu tidak ada awalnya. Permenungan filsafat telah kita jumpai pada orang-orang Cina dan India yang hidup beribu-ribu tahun yang lalu, sedangkan dalm lingkungan kebudayaan Yunani permenungan seperti itu baru muncul sekitar abad keenam SM sebagai sebuah kegiatan tersendiri yang dilakukan demi kegembiraan yang dihasilkan oleh pengertian. Van Peursen (1988; 3) mengatakan bahwa pada hakekatnya setiap pengalaman manusiawi mengandung kemungkinan terbukanya dimensi filsafat. Sebaliknya setiap permasalahan filsafat, betapapun abstrak atau umum, entah yang menyangkut manusia, entag yang bertalian dengan Ada pada umumnya, selalu berakar di dalam manusia yang bertanya-tanya, yang bediri di tengah-tengah arus pengalaman sehari-hari dan sejarah manusia.
Filsafat tidak mengenal apa yang disebut “titik nol yang mutlak” seperti dalam ilmu alam, ia tidak dimulai secara polos dengan membuka selembar halaman yang masih kosong. Filsafat selalu berurusan dengan manusia yang selalu berangkat pada perjalanannya. Di dalam filsafat, muncul pertanyaan-pertanyaan yang hakiki seperti: ada itu apa? Siapakah aku? Tetapi dengan dengan mengajukan pertanyaan serupa, manusia tidak pernah berdiri pada awal perjalanannya; ia mempunyai latar belakang sejarah, ia hidup di tengah-tengah sebuah gambaran tertentu, dan dengan demikian manusia yang mengajukan pertanyaan tadi berasal dari situasinya sendiri. Lalu apa itu filsafat?
Filsafat berasal dari bahasa Greik (Yunani) yaitu Pilos (cinta) dan sophos (kebijaksanaan). Sehingga secara terminologi filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Ciceros yang dikutip dari Ahmad Hanafi (1990; 3) mengatakan bahwa orang pertama yang menggunakan kata filsafat adalah Phytagoras (476 SM), sebagai reaksi terhadap para cendekiawan pada masanya yang menamakan diri “Ahli Pengetahuan”, Phytagoras mengatakan bahwa pengetahuan dalam arti yang lengkap tidak sesuai untuk manusia. Tiap-tiap manusia yang mengalami kesukaran-kesukaran dalam memperolehnya dan meskipun menghabiskan seluruh umurnya namun ia tidak akan mencapai tepinya. Jadi pengetahuan adalah perkara yang kita cari dan kita ambil sebagian darinya tanpa mencakup keseluruhannya. Oleh karena itu, maka kita bukanlah ahli pengetahuan melainkan pencari dan pencinta pengetahuan.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa orang yang berfilsafat dapat dipahami sebagai orang yang berpijak di bumi dan menengadah ke langit. Ia ingin mengetahui hakikat dirinya dalam kemestaan alam. Dalam paper ini, penulis akan mendeskripsikan pemahaman para filsuf yang berasal dari mazhab Stoa. Stoisisme, demikian nama yang digelari untuk ajaran yang dikembangkan oleh mazhab Stoa, memiliki inti ajaran yang mengajak untuk hidup sesuai atau selaras dengan alam. Ajaran ini mendorong pengendalian diri terhadap keinginan duniawi dan pengendalian diri terhadap amarah (destructive emotion) . 

Analisis

Stoa didirikan di Atena oleh Zeno dari Citium tahun 300 SM. Nama Stoa menunjukkan serambi bertiang tempat Zeno memberi pelajaran. Menurut stoisme, jagat raya ditentukan oleh suatu kuasa yang disebut logos (rasio), berdasarkan rasio manusia bisa mengenal orde universal dalam jagat raya. Ia akan hidup bijaksana dan bahagia asal saja ia bertindak menurut rasionya. Penaklukan diri kepad hokum-hukum alam bertolak dari penguasaan nafsu dan penguasaan diri secara sempurna (K. Bertens 2006:45).
Sebagai seorang pedagang, Zeno tentunya berkelana kesana-kemari untuk menjajakan dagangannya. Dalam situasi itulah ia bertemu denan banyak pemikiran para filsuf  seperti.. Socrates, Xenocrates, Stilpon, dll. Pemikiran-pemikiran mereka benar-benar merangsang otaknya untuk menghasilkan sebuah pemikiran filsafat yang kemudian dikenal dengan stoisisme. Beberapa  pernyataan Zeno yang paling terkenal antara lain:
The cosmos is a divine being with a soul.
Human beings are to live according to nature.
Man must control his emotions to remain indifferent to suffering.
Slavery violates natural law. It exists only where civil law and international custom fail to conform to natural law.
By natural law human beings are rational and thus have a power of self-government. Hence no human being should be governed by an external master.
Man-made Civil law and customary law ought to be reformed to be put in conformity with natural law. That is our moral duty.
The sun is a sphere of fire and the moon shines from reflected light.
Steel your sensibilities, so that life shall hurt you as little as possible.
Philosophy is like an orchard, with Physics as the soil and the trees, Logic as the fence guarding the orchard, and Ethics as the fruit of the trees.

Dengan pemikiran-pemikirannya yang brilian ini, stoisme telah menjadi filsafat pertama dalam sejarah pengutukan moral perbudakan. Dan banyak pemikirannya banyak diadopsi oleh orang-orang terkenal Roma seperti Cicero, Seneca, Josephus, Marc Aurel, dll.
            Rasionalitas (logos) merupakan istilah yang dipakai oleh Philo dari Alexandria. Untuk menggambarkan pemahamannya mengenai firman. Menurutnya, logos ialah cetak biru yang dibuat oleh Tuhan untuk menciptakan alam semesta. Walaupun doktrin Logosnya agak kabur karena tercampur dengan pandangan agama Yahudi dan mistik, ia mengungkapkan dengan jelas bahwa Logos adalah perwujudan dari sifat Tuhan yang Maha Pencipta dan Maha Bijaksana. Istilah Logos ini dipakai oleh kaum Stoa untuk menjadi dasar keyakinan. Logos diterjemahkan artinya menjadi rasional oleh  Stoisisme, memiliki tujuan agar manusia hidup sesuai dengan alam dan cara pandang biologis. Menurut Stoa, seluruh makhluk yang berjiwa pasti berjuang mencari keabadian. Pencarian keabadian ini mengarahkan dirinya untuk senada dengan irama alam yang cocok dengan dirinya. Manusia mengikuti akal sehat tidak hanya sekedar mencari makan, kehangatan, atau tempat berteduh, tetapi juga pemenuhan kebutuhan intelektualitasnya. Akhirnya, akal sehat mengarahkan manusia untuk memilih apa yang sesuai dengan keselarasan alami dengan tingkat akurasi yang lebih baik dibandingkan hanya dengan mengikuti insting kebinatangan.
            Bagi para filsuf stoa, dalil-dalil mengenai akal mempunyai kekuatan universal. Dalil-dalil tersebut juga mengikat semua manusia di mana saja. Dari sini para filsuf Stoa untuk pertama kalinya mengembangkan filsafat kosmopolitan yang termasyhur dalam pemikiran barat. Manusia diberkahi dengan akal, terlepas dari ras dan kebangsaan. Perbedaan antara negara kota Yunani dan negara orang Barbar, serta dalil negara dunia di mana umat manusia hidup sederajat tidak dapat diterima.
            Inti ajaran stoa dalam memandang dunia ialah bagaimana memahami apa yang menjadi penyususn kebaikan dan apa yang paling sesuai dalam kehidupan ini bagi penghidupan manusia. Sementara banyak pemikir yang berpegang pada kekayaan dan kesehatan, stoa berpegang teguh pada criteria bahwa yang hakiki harus baik di segala kondisi. Tidak selamanya kekayaan itu baik, jika hal itu membuat dirinya atau orang lain menjadi susah atau rusak. Bahkan kesehatan yang berjalan kea rah kekuatan dianggap tidak baik, jika membahayakan diri sendiri dan orang lain. Stoa menyimpulkan bahwa satu-satunya kebaikan yang tidak memiliki cacat adalah kebajikan.
Penulis melihat bahwa apa yang diajarkan oleh Zeno memiliki kesejajaran dengan pemikiran Lao Tse (abad ke 6 SM). Lao Tse merupakan pendiri Taoisme di Cina. Lao Tse menekankan kesederhanaan dan keselarasan dengan alam semesta. Kebahagiaan hanya diperoleh denga kehidupan yang selaras dengan Tao, yang erupakan sumber impersonal segala sesuatu, sekaligus alam yang berubah secara spontan.  
            Belajar dari pemikiran Stoa, seperti yang telah dijabarkan secara panjang lebar di atas, ada baiknya jika pemikiran itu di daratkan dalam konteks masyarakat. Lebih dekat lagi kita bicara tentang kerusakan lingkungan akhir-akhir ini dan sikap pemerintah yang seolah-olah acuh tak acuh dengan berbagi penindsan dan ketidakdilan di masyarakat.
            Dewasa ini kita menghidup dunia yang kian sekarat. Pengrusakan lingkungan, pembabatan hutan secar liar, penyebaran gas beracun di udara akibat bom dan asap-asap pabrik, pembuangan limbah pabrik ke sungai dan laut, dan berbagai kejahatan lingkungan lain mengindikasikan bahwa bumi kita benar-benar kritis. Siapa yang mau peduli dengan semua ini? Pemerintah? Mereka hanya sibuk dengan korupsi dan urusan-urusan lain yang menguntungkan mereka. Masayarakat? Juga bayak tidak peduli, yang dipedulikan adalah perut sendiri. Agama? Tidak jarang agama dijadikan legitimasi untuk mengeksploitasi alam. Belajar dari Stoa, semestinya kita malu dengan relati ini. Satu hal yang penulis lihat kalau mau jujur, justru agama-agama suku seperti Kaharingan Marapu, Kejawen dll yang begitu menjaga kestabilan akselerasi antara alam dan pola hidup mereka.
            Bagaimana dengan pemerintahan kita? Pemerintahan kita bukanlah orang yang bijaksana melainkan oknum yang suka bajak sana dan bajak sini. Bagaimana tidak! Jika APBN, pajak, dan berbagai fasilitas yang seharusnya disediakan untuk kemaslahatan masyarakat banyak, dikorupsi secara massal dan sistematis, bukankah itu pembajak? Mungkin terdengar sadis tetapi lebih sadis jika kita melihat akibat yang ditimbulkan oleh ulah pemerintah kita. Orang makan nasi aking, pengemis dan anak jalanan yang jumlahnya kian meresahkan dan tingkat kriminalitas yang tinggi akibat susahnya mencari sesuap nasi adalah dampak dari korupsi pemerintah kita. Cukuplah kiranya untuk mengatakan bahwa pemerintah kita adalah orang yang bukan mewakili kepentingan masyarakatnya. Stoa justru mengajarkan yang sebaliknya.

DAFTAR PUSTAKA
Hanafi, Ahmad ,M.A, Pengantar Filsafat Islam, Bulan Bintang: Jakarta,1990
Van Peursen, Cornelis, Orientasi di Alam Filsafat, PT Gramedia: Jakarta,1988
Bertens,K, Sejarah Filsafat, Kanisius: Yogyakarta, 2006
Yuana, Kumara Ari, The Greatest Philosophers- 100 Tokoh Filsafat Baru dari Abad 6 SM- Abad    21 yang Menginspirasi Dunia Bisnis, Andi:Yogyakarta,2010

Donatta Taranau: PERAN PSIKOLOGI KOMUNKASI DALAM MEMBANGUN POLA PERILAKU ANAK

Donatta Taranau: PERAN PSIKOLOGI KOMUNKASI DALAM MEMBANGUN POLA PERILAKU ANAK

PERAN PSIKOLOGI KOMUNKASI DALAM MEMBANGUN POLA PERILAKU ANAK


Oleh: Asnafri Taranau
Latar Belakang
Zaman sekarang, kita  sementara dihidupi dan menghidupi suatu era yang disebut globalisasi. Era ini ditandai  oleh media komunikasi dan informasi yang mempunyai peranan sangat besar bagi kehidupan manusia. Hal ini dicirikan oleh proses pertukaran informasi yang begitu cepat sehingga batas-batas geografis tidak menjadi penghalang untuk mengetahui informasi yang sedang terjadi di suatu wilayah tertentu. Hal ini membawa kesan bahwa media telah menciptakan “kampung global” bagi umat manusia (global village for human beings). Dalam ilmu komunikasi, fenomena ini dinamakan komunikasi massa (mass communication). Rakhmat (1985) mengatakan bahwa komunikasi massa ialah suatu bentuk komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen, dan anonim melalui media cetak atau elektronik, sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa komunikasi massa adalah komunikasi yang dilakukan oleh media massa kepada khalayak dengan tujuan untuk menyampaikan informasi. Dari defenisi di atas, ditemukan bahwa secara inheren  media massa dapat dikategorikan menjadi dua, yakni media cetak dan elektronik.
Nah jika media komunikasi yang terjadi dewasa ini sebegitu berpengaruh dalam kehidupan masyarakat sekarang, pertanyaan yang lebih menjurus ke arah tulisan ini ialah …..apa dampak psikologi komunikasi terhadap perilaku anak? Perlu dijelaskan bahwa perilaku manusia pada hakikatnya merupakan proses interaksi individu dengan lingkungannya.. Sikap dan perilaku menurut pandangan behavioristik dapat dibentuk melalui proses pembiasaan dan pengukuhan lingkungan.
Sadar atau tidak melalui proses pembiasan dan pengukuhan yang dilakukan media secara sugestif melalui iklan ataupun tayangan-tayangan lain yang selalu muncul di layar televisi, di kolom-kolom surat kabar dan media internet, telah membentuk perilaku (behavior) manusia menjadi insan yang serba instant, pragmatis, hedonis, kejam, berbagi rasa (share compassion), simpati, empati dan masih masih banyak perilaku lain yang mampu dibentuk oleh media. Menurut Kuswandi (dikutip dalam Syarifah, 2010), media massa yang paling mempengaruhi khalayaknya dalam hal penyampaian informasi adalah televisi. Kehadiran televisi dalam kehidupan manusia telah memunculkan suatu peradaban, khususnya dalam proses komunikasi dan penyebaran informasi yang bersifat massal dan menghasilkan efek sosial yang berpengaruh terhadap nilai-nilai sosial dan budaya manusia. Hal ini dikarenakan informasi yang diperoleh melibatkan dua indra yakni indra pendengar (telinga) dan indra penglihatan (mata) secara simultan dan bersamaan.
Dwyer (dikutip dalam Majid, 2008) menjelaskan bahwa sebagai media audio visual (yaitu televisi) mampu merebut 94 %  saluran masuknya informasi ke dalam jiwa manusia, yaitu lewat mata dan telinga. Televisi mampu membuat orang pada umumnya mengingat 50% dari apa yang mereka lihat dan dengan di layar televisi, walaupun hanya sekali ditayangkan. Secara umum, orang akan ingat 85% dari apa yang mereka lihat di televisi  setelah 3 jam kemudian dan 65% setelah 3 hari kemudian. Namun televisi bukanlah satu-satunya media  yang menjadi kajian dalam tulisan ini.
              Dalam kaitannya dengan pembentukan perilaku manusia oleh media, ada hal menarik yang perlu dianalisis secara kritis. Berdasarkan penalaran secara rasional dan sistematis, penulis menemukan bahwa ada pengaruh media secara psikologis. Peranan media secara psikologis berkaitan dengan dengan faktor biologis dan faktor sosiopsikologis. Pengaruh faktor biologis adalah perilaku tertentu yang merupakan bawaan manusia, bukan pengaruh lingkungan;  motif biologis yaitu kebutuhan makan, minum, istirahat, dllnya. Faktor sosiopsikologis yang mempengaruhi perilaku berupa:  Komponen afektif yaitu aspek emosional, kognitif, intelektual, yang berkaitan dengan apa yang diketahui manusia; aspek konatif  adalah hal-hal yang berhubungan dengan kebiasaan dan kemauan bertindak. Komponen afektif meliputi: Motif sosiogenis (motif ingin tahu), motif kompetensi, motif cinta, motif harga diri kebutuhan akan nilai, kedambaan dan makna kehidupan kebutuhan akan pemenuhan diri.
            Menurut Sherif sikap adalah sejenis motif sosiogenis yang diperoleh melalui proses belajar. Menurut Alport sikap adalah kesiapan syaraf setelah memberi respon: (a) Sikap adalah kecenderungan bertindak berpersepsi, berpikir dan merasa dalam menghadapi obyek, ide, situasi atau nilai; (b) Sikap mempunyai daya pendorong atau motivasi: (c) Sikap relatif menetap dan jarang mengalami perubahan; (d) Aspek evaluatif mengandung nilai menyenangkan atau tidak menyenangkan dan (e) Sikap timbul dari pengalaman, tidak dibawa sejak lahir tetapi merupakan hasil belajar.
            Berkaitan dengan perilaku yang dibentuk oleh media, penulis lebih tertarik pada dampak psikologi komunikasi terhadap perilaku anak-anak. Penulis sengaja memilih anak-anak dalam tulisan ini karena masa kanak-kanak merupakan masa pembentukan pola sosialisasi dan perilaku anak-anak. Seto Mulyadi (dikutip oleh Windhi 2006) mengatakan bahwa anak-anak adalah peniru terbaik di dunia. Menurut Cooney (dikutip dalam Chen,1996) anak-anak dan media khususnya televisi merupakan suatu perpaduan yang sangat kuat yang diketahui oleh orang tua, pendidik dan pemasang iklan. Menurut Charen (dikutip oleh Chen,1996) televisi merupakan suatu alat yang melebihi budaya dalam mempengaruhi cara berpikir dan perilaku anak.

Media dan Psikologi Komunikasi
            Media dan Psikologi Komunikasi secara inheren bukanlah hal yang terpisah. Keduanya merupakan komponen yang secara konsep berbeda tetapi memiliki saling keterkaitan (simboisis). Dengan kata lain, bagaimana klahayak dapat mengakses informasi jika tidak ada media. Begitu juga sebaliknya! Namun keterkaitan ini tidak selalu saling menguntungkan. Yang sering terjadi ialah ialah media hanya mengejar profit sehingga tidaklah menjadi masalah jika harus mengorbankan khalayak.
Untuk itu penulis akan coba menggambarkan masing-masing komponen itu secara detil.
a.       Psikologi Komunikasi
Perilaku komunikasi berhubungan dengan karakteristik manusia komunikan/pelopor (communicant people) yang dipengaruhi oleh faktor-faktor internal maupun eksternal. Psikologi Komunikasi berhubungan dengan faktor biologis dan sosiopsikologis. Pengaruh faktor biologis adalah perilaku tertentu merupakan bawaannya manusia bukan pengaruh lingkungan dan motif biologis yaitu kebutuhan makan, minum istirahat dllnya
 Faktor sosiopsikologis yang mempengaruhi perilaku manusia, terdiri dari:. komponen afektif yaitu hal-hal yang berkaitan dengan aspek emosional; komponen kognitif / intelektual; aspek konatif; aspek volisional/ kebiasaan dan kemauan bertindak. komponen afektif meliputi: motif sosiogenis/motif ingin tahu, motif kompetensi, motif cinta, motif harga diri, kebutuhan akan nilai, kedambaan dan makna kehidupan, serta kebutuhan akan pemenuhan diri.
Selain faktor-faktor biologis dan faktor psikososial seperti yang sudah dijabarkan di atas, ada 4 faktor lain yang tidak bisa diabaikan , yang juga  memiliki hubungan dengan psikologi komunikasi, yaitu:
ü  Penerimaan stimuli secara inderawi (sensory reception of stimult)
Penerimaan stimuli secara indrawi yaitu data-data yang masuk melalui organ-organ penginderaan.  Stimuli yang diterima bisa berupa orang, pesan, suara, warna dan segala hal yang mempengaruhi kita;
ü  Proses yang mengantarai stimuli dan respons (internal mediation of stimult)
Stimuli yang datang, diolah dalam jiwa kita dalam "kotak hitam "yang tidak pemah kita ketahui;
ü  Prediksi respons (prediction respons) yaitu respon yang terjadi pada masa lalu dapat meramalkan respon yang akan terlihat;
ü  Peneguhan response adalah pengaruh lingkungan atau orang  terhadap respon organisme  atau disebut Feed Back (umpan balik)
b.      Media dan cara Kerjanya
Mass media merupakan bentuk dari media yang disukai, yang dilihat sebagai gabungan dari mass communication, budaya dan tekhnologi. Menurut McQuail dan Windahl (dikutip dalam gilas,2003), secara umum terdapat banyak model, alat komunikasi yang selalu mengalami perkembangan setiap tahunnya. Ada perbedaan tekhnologi mass media antara telephone dan televisi, dimana telefon adalah alat tekhnologi yang menggunakan tekhnik komunikasi dua arah dan televisi merupakan alat tekhnologi dan tekhnik komunikasi searah. Tidak hanya itu, ada juga media interaktif yang dimunculkan dengan menggunakan jaringan, yaitu internet (Giles,2003).
Menurut Wells, Moriarty dan Burnett (2006) ada enam langkah agar masyarakat dapat merespon yang ditampilkan oleh media massa, yaitu: perception, cognition, emotional response, association, persuasion,  behavior.

Media dengan Segala Aspeknya
a.       Peranan Media
Wahyudi (dikutip oleh Yusatie,1998) menyebutkan fungsi media massa, yaitu: (1) menyajikan informasi (2) media pendidikan (3) media hiburan (4) media kontrol sosial
b.      Pengaruh Positif Media
Media memiliki pengaruh positif yakni: (a) pencerdasan anak bangsa (b) menimbulkan kepuasan akan kesenangan dari hiburan (c) menjadi sahabat disaat kesepian (d) terciptanya suasana keakraban dalam keluarga (e) seseorang dapat mencontoh sifat-sifat baik dari tokoh yang ada dalam film dan (f) meningkatkan profesionalisme (Yusiatie,1998)
c.       Pengaruh Negatif Media
Selain memiliki factor positif, media juga memiliki factor negative. Menurut Yusatie (1998) ada empat pengaruh negative,yakni: (a) mengikis nilai-nilai budaya karena produk impor (b) pola hidup konsumtif (c)seseorang menjadi agresif (d) media menjadi “dewa” bagi manusia.

Peran Psikologi Komunikasi dalam Proses Media Membangun Perilaku Anak
            Setelah membahas satu persatu setiap variabel yang ada, kini penulis sampai pada bagian inti. Pada bagian ini penulis akan membahas pola perilaku anak yang terbangun sebagai pengaruh dari media.
            Penulis akan memulai bagian ini, dengan sebuah tesis dasar yaitu anak-anak cenderung meniru apa yang mereka lihat. Dengan tesis ini, penulis berasumsi bahwa dengan kecendrungan itu tidak tertutup kemungkinan perilaku dan sikap dari sang anak mengikuti model tokoh yang mereka lihat atau baca. Hal ini sudah dibuktikan melalui penelitian eksperimen Wilson (2008) dimana anak-anak diperlihatkan tontonan Mighty Morphin Power Ranger`s yang mengandung sejumlah adegan kekerasan. Berdasarkan eksperimen tersebut, didapat hasil penelitian bahwa anak-anak, khususnya laki-laki cenderung meniru perilaku kekerasan yang ditayangkan tontonan acara tersebut, yaitu perilaku memukul, menendang dan mendorong.
            Tetapi media juga memiliki dampak positif terhadap perilaku anak. Salah satu tayangan yang memberikan dampak positif bagi anak-anak, yaitu peristiwa yang terjadi di Indonesia, dimana terjadi “Gerakan Koin Peduli Prita” yang dideklarasikan pada hari Sabtu, 5 Desember 2009 melalui tayangan televise (Sabran,2009). Kaylan Dian (seorang siswa TK) misalnya, mengatakan “sangat sedih ketika mendengar nasib dan penderitaan yang dijalani Prita, baik dari televisi maupun dari penjelasan yang diberikan oleh guru”.  Pada aksi tersebut para siswa TK mengumpulkan uang koin  yang dimasukan ke dalam celengan ayam jago yang kemudian disatukan dengan kotak yang terbuat dari kardus yang bertuliskan Koin Pedui Prita (Oklex Smart Blog,2009)
            Sejak usia 3-6 tahun, kata hati seorang anak sudah mulai terpupuk. Anak sudah dapat diajarkan berperilaku moral (Gunarsa & Gunarsa,2004). Barry, Walker, Medsen & Nelson (2007) istilah pembelajaran moral sebagai perspective taking. Fenomena seperti yang telah dijelaskan di atas (Gerakan Peduli Koin untuk Prita), merupakan salah satu  produk media massa yang dapat menjelaskan proses pembelajaran perilaku prososial (Taylor, Peplau dan Sears ,2006)   pada anak-anak. Proses munculnya perilaku prososial dapat dijelaskan melaui enam cara media berdampak kepada masyarakat, yaitu: perception, cognition, emotional response, association, persuasion,  behavior  (Wells, Moriarty dan Burnett, 2006).
            Pada peritiwa Koin Peduli Prita, informasi mengenai kasus tersebut membentuk persepsi dalam diri anak-anak. Setelah anak-anak mempersepsikan informasi, lagkah selanjutnya adalah cognition. Anak-anak seperti halnya individu lain memiliki kebutuhan untuk mengetahui dan memahami sesuatu. Masuknya informasi dalam kognisi anak-anak menciptakan perasaan emosional tertentu. Ungkapan seperti yang diutarakan oleh Kaylan dalam contoh sebelumnya menunjukkan  Emotional response. Selanjutnya, emosi kesedihan memunculkan ekspresi want untuk melakukan suatu tindakan menolong.
            Tahap selanjutanya adalah proses asosiasi (association). Pada tahap asosiasi terdapat simbolisme akan ketidakadilan pada kasus Prita. Simbol yang terungkap dalam kasus itu ialah koin. Informasi yang telah masuk dalam kognisi anak, diketahui,dipahami dan dipelajari kemudian akan mempersuasikan atau mengajak anak untuk meyakini sesuatu dan melakukan suatu tindakan.
            Dengan menyaksikan tayangan yang ada di Televisi, anak-anak secara tidak langsung mengalami proses belajar. Proses belajar yang terjadi menurut Albert Bandura (dikutip dari Waruwu,2004), terjadi melalui peniruan (imitation) terhadap perilaku orang lain yang dilihat oleh seorang anak pada pemberitaan Televisi. Pada akhirnya tindakan yang dilakukan oleh Kaylan merupakan tindakan prososial, karena tindakan tersebut dirancang untuk menolong orang lain tanpa menghiraukan motif pemberian pertolongan.

Kesimpulan
            Media memiliki pengaruh yang sangat besar dalam membangun perilaku anak  dalam proses sosialisasinya. Perilaku yang terbentuk pada diri anak bisa positif dan negatif tergantung input informasi yang diperoleh. Satu hal yang paling perlu digarisbawahi ialah bahwa anak adalah peniru terbaik di dunia. Mereka tidak hanya meniru tetapi hal itu juga bisa menjadikan hal itu sebagai perilaku. Oleh sebab itu, peran orang tua sangat diharapkan untuk memberikan perhatian dan pengawasan yang lebih selektif terhadap informasi yang diakses oleh anak-anak.

Daftar Pustaka

Barry C.M., Walker, L.M.P., Medsen, S.D., & Nelsen, L.J. 2007, The Impact of Maternal                           Relationship quality on Emerging Adults` Prosocial Tendencies: Indirect Effect Via            Regulation on Prosocial Values. Springer Science and Business Media, 40, 519-581
Chen,M. 1996. Anak-Anak dan Televisi (Hidayat,Penerjemah). Jakarta: Gramedia Pustaka
Giles,D. 2003. Media Psychology. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates,Inc.
Gunarsa,S.D. & Gunarsa, Y.S.D. 2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta:                  Gunung  Mulia.
Leman,M.2000. Televisi dan Anak-Anak. Retrieve 2010
Majid,A. 2008. Pengaruh Televisi Terhadap Anak.  Retrieve 2010
Rakhmat J. 1985. Psikologi Komunikasi (edisi revisi). Bandung: Remaja Rosdakarya
Sabran,A. 2009. Ketika Keadilan Dilecehkan. Retrieve 2010
Taylor, S.E. Peplau, L.A.,& Sears, D.O.2006. Social Psychology. Upper Saddle River, NJ:            Pearson education
Waruwu, F. Tayangan Kekerasan di Tv dan Dampaknya pada Anak. Dalam S.D. Gunarsa (Ed.), Dari Anak samapi Usia Lanjut: Bunga Rampai Psikologi Perkembangan. Jakarta:        Gunung Mulia.
Widhi N. 2006. Kak Seto: Anak Peniru yang Baik. Retrieved 2010
Chaplin, J.P. terjemahan Kartini Mohammad,1997. Kamus Lengkap psikologi.PT, Raja ..
            Grafindo Persada: Jakarta.
Denis Coont.l977, Introduction to Psychology: Exploration and Application, West Publishing
            Company, Bo

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | BloggerTemplates